Navigation


RSS : Articles / Comments


Pemimpin Yang Berprinsip

05.53, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment


Dalam situasi bisnis sekarang ini tampaknya mudah sekali orang membenarkan cara-cara kasar demi tujuan baik. Bagi mereka, "bisnis adalah bisnis", sedangkan "etika dan prinsip terkadang harus mengalah pada keuntungan".Selain itu, banyak juga kita lihat para pelaku dan pemimpin bisnis yang tampak berhasil menumpuk kekayaan, namun di belakang kehidupan mereka tampak kacau dan mengenaskan. Padahal bila kita tinjau, hampir setiap minggu muncul teori manajemen baru, namun tampaknya sedikit sekali yang meninggalkan hasil yang diharapkan. Mengapa demikian?

Menurut Stephen R. Covey, penulis buku terkenal, "Seven Habits of Highly Effective People", dalam bukunya yang lain "Principle Centered Leadership", hal ini disebabkan mereka tidak lagi berpegang pada prinsip dasar yang berlaku di alam ini. Padahal hukum alam, berdasarkan pada prinsip, berlaku tanpa peduli apakah kita menyadarinya atau tidak. Oleh karena itu semestinya kita meletakkan prinsip-prinsip ini di pusat kehidupan, hubungan, kontrak-kontrak manajemen dan seluruh organisasi bisnis anda.

Covey percaya bahwa kesuksesan kita, baik pribadi maupun organisasi, tidak dapat diraih begitu saja. Kesuksesan harus datang dari "dalam diri" dengan berdasarkan pada apa yang kita pahami dan yakini untuk menjadi prinsip yang tak tergoyahkan. Dengan demikian kepemimpinan yang berprinsip memusatkan kehidupan dan kepemimpinan kita pada prinsip-prinsip utama yang benar.

Artikel ini tidak membahas apa itu prinsip menurut Covey, namun meringkas ciri-ciri pemimpin yang berprinsip. Ciri-ciri dari pemimpin yang mendasarkan tindakannya pada prinsip. Dengan demikian setidaknya kita bisa mengenal bagaimana kepemimpinan yang berpusat pada prinsip itu. Ada delapan ciri-ciri pemimpin yang berprinsip.

1--Mereka terus belajar.

Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.

2--Mereka berorientasi pada pelayanan.

Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karier. Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan untuk memikul beban orang lain. Pemimpin yang tak mau memikul beban orang lain akan menemui kegagalan. Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau menerima tanggung jawab moral, pelayanan, dan sumbangsih.


3--Mereka memancarkan energi positif.

Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energi positif yang akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Dengan energi itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.


4--Mereka mempercayai orang lain.

Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.


5--Mereka hidup seimbang.

Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakannya. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja, tidak fanatik, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian mereka jujur pada diri sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.

6--Mereka melihat hidup sebagai sebuah petualangan.

Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpahan.


7--Mereka sinergistik.

Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif. Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya memberi dan menerima sedikit.

8--Mereka berlatih untuk memperbarui diri.
Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula.

Mahasiswa sebagai sparring partner dalam kampanye kampus

05.47, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment

Pemerintah pada Pemilu 2004 memperbolehkan partai politik (parpol) berkampanye di kampus. Hal ini memancing reaksi dari kalangan civitas akademika. Menurut Malik Fajar, model kampanye kampus tidak sama dengan model kampanye pengerahan massa. Kampanye di kampus akan lebih mengedepankan ciri akademis dengan cara dialogis. Suatu model kampanye yang "akan bermanfaat bagi pendidikan politik para mahasiswa" (Republika 26/2/2003).Parpol di perbolehkan kampanye sesuai mekanisme kampanye yang ditetapkan oleh masing masing kampus.

Hampir setiap kampus, mayoritas kalangan aktifis mahasiswa menolak kehadiran parpol untuk berkampanye. Setidaknya kalangan mahasiswa melihat dan mempunyai beberapa alasan mendasar atas penolakan mereka terhadap kampanye di kampus. Pertama, adanya alasan pinsipil dan perbedaan diametral antara dunia politik dan dunia pendidikan. Kalangan pendidikan membangun bangsa dalam jangka panjang, secara terarah dan berkesinambungan. Untuk itu tiap lembaga pendidikan, dalam hal ini kampus, telah mempunyai blue print arah kebijakan dan tujuan pendidikan. Sementara partai politik lebih mementingkan kepentingan jangka pendek. Kalau toh dalam AD/ART dan janji parpol tersebut mengemukakan hal hal yang bersifat idealita, itu berubah seratus delapan puluh derajat manakala mereka telah mendapatkan "kursi" di carinya, dan inilah fakta yang ada selama ini. Kepentingan jangka pendek inilah yang membedakan parpol dengan kampus/lembaga pendidikan.

Kedua, kekhawatiran politisasi kampus oleh pihak pihak tertentu. Dengan diperbolehkannya kampus dipakai sebagai ajang kampanye parpol, aktifis mahasiswa menduga adanya kepentingan dan konsesi tertentu dan juga kemudahan akses bagi kampus dalam melakukan sesuatu terutama dengan bila bekerjasama dengan parpol pemenang terutama yang di prediksikan pemenang pemilu.

Ketiga, realitas lapangan menunjukkan bahwa kinerja "wakil rakyat" belum memuaskan (untuk tidak mengatakan: mengecewakan!). Tingkah laku elit politik yang tak mencerminkan kondisi rakyat kecil dan tidak adanya sense of crisis. Hal ini semakin menguatkan asumsi bahwa anggota legislative adalah wakil parpol yang tidak mewakili dan memperjuangkan kepentingan rakyat kecil tetapi lebih mementingkan kepentingan golongan dan parpolnya. Di saat rakyat tercekik oleh kebutuhan ekonomi, politisi di beberapa DPRD seperti Boyolali, Sukoharjo dan Sragen meminta dana purnabhakti 25-35 Juta atas perjuangan mereka di legislatif.

Alasan kampanye di kampus merupakan pendidikan politik mungkin ada benarnya. Selama ini pendidikan pilitik tak pernah ada dalam perkuliahan kecuali fakultas sosial politik. Dengan demikian mahasiswa akan melek politik. Dan lagi pula kampanye tersebut parpol 'diharapkan" tidak membawa massa. Kampanye dalam bentuk diskusi dialogis, tiap jurkam memaparkan program parpolnya, calon presidennya dan menyampaikan janji-janjinya.

Dengan demikian, agar terjadi keseimbangan atau balance dalam kampanye kampus, menurut penulis perlu beberapa tawaran alternatif. Pertama, karena yang maju dalam kampanye adalah tiap jurkam dengan segala program parpol dan hal positif lainnya, maka pihak aktifis mahasiswa dan akademisi kampus perlu memposisikan diri sebagai subyek kritis. Jurkam harus siap "dikuliti" porgram parpolnya -yang sering kali berbentuk konsep ideal-- dengan realita yang terjadi di lapangan, dengan kondisi utusannya yang menjadi wakil rakyat. Artinya akademisi dan aktifis kampus adalah subyek dan bukan obyek, bersikap positif dan lebih bijak terhadap parpol tetapi juga tidak meninggalkan sikap kritis yang menjadi tradisi keilmuan kampus. Pemilihan umum adalah wahana penyaluran aspirasi secara demokratis. Pemilih merupakan subyek yang bebas menentukan hak pilihnya sesuai dengan aspirasinya, atau tidak memilih sama sekali dan aktif mengcounter parpol bila memang parpol di anggap membodohi kampus dan rakyat. Kondisi ini memungkinkan titik temu antara parpol, rektorat dan aktifis mahasiswa.

Wal hasil, kampus perlu aktif menjadi "sparring partner" parpol dalam memberi arah dan mengkontruksi sejarah masa depan bangsa. Upaya ini bisa dengan kerja sama melalui simbiosis mutualisme antara kampus dan parpol, dengan tetap kritis tentunya. Bisa juga sparring partner ini dalam bentuk sikap oposisi kampanye. Bila parpol dengan janji janjinya, kampus dengan penilaian kritis. Dan jika perlu aktifis kampus mengkampanyekan golongan putih (golput) sebagai salah satu pilihan masyarakat, dan sebagai sikap ketidak puasan dan kritis yang demokratis atas janji saat kampanye dan kenyataan yang ada pada parpol ketika telah memperoleh kursi. Dengan adanya giolput parpol mengetahui seberapa besar kepercayaan pemilih. Dan memungkinkan pengukuran secara nominal seberapa besar golput pada berbagai macam pemilu yang akan ada.

Pendidikan Nasional Perlu Sentuhan Kreativitas

05.20, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment

Jumlah penganggur berlipat jumlahnya. Tak ayal, selama dua hari berturut-turut (31/11/2008 dan 1/12/2008), Kompas mewartakan betapa mencemaskannya kondisi sektor riil. PHK terpaksa dilakukan, sektor informal pun terkena getahnya.

Dengan kondisi yang tidak stabil, kepastian akan jumlah penduduk yang makin banyak, urbanisasi meningkat, dan pada akhirnya kota menjadi incaran kaum marjinal mencari pekerjaan merupakan efek domino dari rentan atau fluktuatifnya dunia usaha kita.

Tingkat kriminalitas yang kian meningkat, penyimpangan sosial banyak terjadi, dan kehidupan sosial terpenjara dengan rasa curiga dan tak percaya tinggi tinggi. Interaksi antar warga menurunkan aspek penghargaan sosial yang mumpuni antar sesama.

Dunia berubah. Indonesia yang ramah hanya berbayang di masa lalu. Modernitas begitu menyakitkan. "Pasar domestik" (sektor informal) diamuk satpol PP. Gerobak dagang diangkut. Pedagang hanya memasrah. Pemodal kecil dengan sendirinya akan tergusur. Tidak ada proteksi bahkan penghargaan bagi mereka yang sudah melakukan terobosan kreatif.

Di tengah pengangguran yang mengancam, sudah selayaknya pemerintah berterima kasih kepada warga negara yang lebih banyak meminjam modalnya dari rentenir daripada bank yang lebih percaya pada pengusaha bermodal besar. Singkat kata, memberdayakan warga yang marjinal bagai mimpi sebagaimana iklan politik di televisi. Iklan politik selebihnya tak beda jauh dengan kualitas sinetron yang lebih banyak mengumbar mimpi.

Evaluasi dunia pendidikan

Menganggur bukan hanya milik orang kecil. Namun juga itu berlaku bagi orang-orang yang bermental kecil. Orang-orang yang bermental kecil merasa cukup puas dengan apa yang terberikan. Fakta itu banyak berlaku di dunia persekolahan dan perguruan tinggi. Menurut HAR Tilaar, berdasarkan pendataan tahun 2007 jumlah diploma dan sarjana yang menganggur mencapai 740.000 orang (Kompas, 16/02/2008).

Sering kali proses belajar tidak menantang siswa untuk melakukan terobosan dalam ruang interaksi sosial yang nyata. Di sebuah hipermarket atau toko-toko besar, kita banyak melihat banyak siswa SMK melakukan magang atau PKL. Di luar sekolah kejuruan, banyak siswa yang tersesat, tak bisa melanjutkan kuliah atas alasan minimnya dana.

Perguruan tinggi negeri (PTN) yang infrastrukturnya dibangun dari pajak rakyat pun tak bisa berkutik. Alokasi pembiayaan yang semakin kecil dari pemerintah saja sudah membuat dosen hilir mudik mencari proyek-proyek penelitian dengan konsekuensi logis, meninggalkan lebih banyak waktu mengajarnya. Padahal riset yang dilakukan pun hanya berbatas pada kepentingan "perut" bukan lagi pada misi idealisme tridharma perguruan tinggi.

Sungguh kompleks memang. Namun pengangguran yang semakin berbilang jumlahnya dan mengurita dimana-mana acapkali menimbulkan ekses yang merugikan banyak pihak. Untuk itu, portofolio dunia persekolahan dan perguruan tinggi yang semakin runyam perlu dievaluasi.

Fungsi kreativitas dan imajinasi siswa harus lebih dikedepankan, sehingga standar kelulusan bukan lagi ditentukan dari ranah kognitif lagi. Ujian nasional (UN) jelas bertolak belakang dari keinginan negara mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di Amerika, tidak ada hubungan nilai rata-rata siswa sekolah dasar dan menengah dengan berjubelnya pemenang nobel yang berasal dari negeri Paman Sam itu. Bahkan kalau mau diukur, prestasi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia lebih baik dibanding Amerika.

'Kemenangan' dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika karena lebih mengedepankan aspek kreativitas dan imajinasi siswa. Kebebasan gaya belajar siswa yang liberatif memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi keunggulan dirinya.

Tentu saja, kita tak pantas berbangga-ria, ketika anak-anak Indonesia sudah unggul di berbagai kompetisi setara olimpiade. Kemenangan itu baru sebatas teori, belum sampai pada tahap tindakan penemuan. Tentu saja, prasayarat dana, fasilitas riset (laboratorium), perpustakaan, dan infrastruktur pendukung lainnya harus tersedia, sehingga kemenangan akan terasa lebih nyata. Namun data menunjukkan bahwa di tingkatan SMP, sebanyak 34,3 persen sekolah belum mempunyai perpustakaan dan 38,2 persen tidak memiliki laboratorium (Kompas, 2/12/2008).

Di perguruan tinggi, tak semua produk inovatif dapat dikomersialisasikan. Parker dan Mainelli (2001) mencatat bahwa dari 100 ide penelitian di perguruan tinggi Amerika hanya 10 yang kemudian direalisasikan dalam proyek penelitian. Dari ke-sepuluh proyek ini hanya dua yang dinilai memiliki potensi komersial dan hanya satu dari keduanya yang kemudian benar-benar menguntungkan. Simpulannya jelas, pengembangan inovasi hasil kreativitas dan imajinasi dapat menjadi basis pengembangan dana. Pekerjaan berat memang, karena selama 22 tahun (1985-2007) penetapan hak atas kekayaan intelektual di seluruh perguruan tinggi di Indonesia hanya 419 (Kompas, 18/11/2008).

Pentingnya kreativitas

Wabah kemalasan menjalar kemana-mana. Banyak orang lebih suka kenyamanan. Lebih baik kehilangan tantangan daripada kehilangan pekerjaan. Banyak sekolah dibuat sekadarnya. Banyak pahlawan tanpa tanda jasa yang puluhan tahun mengajar diberi penghargaan atas alasan kasihan, bukan profesionalitas mereka. Kompleks!

Guru bantu atau honorer, apapun namanya, sudah seperti pekerja sosial yang dipaksa mengajar profesional dengan gaji ala kadarnya atau dibayar gabah. Misi mulia mereka dianggap amal atau sekadar solidaritas sosial. Faktanya lagi, 63 persen guru TK-SMA di Indonesia belum sarjana (Kompas, 12/04/2008). Sebaliknya, Ki Supriyoko mencibir banyak remaja putri kota atau bahkan desa ingin menjadi guru TK bukan atas alasan mencintai profesi guru TK melainkan karena sulitnya mencari pekerjaan (Republika, 18/11/2008). Ironis!

Selanjutnya, pemerintah sudah saatnya menjaga garda terdepan Republik ini dengan pendidikan sebagai senjata utamanya. Berbagai penemuan kreatif yang terjadi dengan proses evolusi pendidikan akan membalikkan kondisi Indonesia menjadi lebih terhormat di hadapan bangsa lain. Belum terlambat dan selalu ada waktu bagi siapapun yang mau berpikir bersama kompleksitasnya.

Kalau kompleksitas itu adalah tantangannya, maka kreativitas berpikir adalah pijakan tepat mengantar nuansa pendidikan menjadi lebih menyenangkan. Masalah selalu diinginkan untuk menantang pikiran. Mengasah pikiran menjadi lebih peka terhadap permasalahan dan alternatif jawaban. Pada tahun 1970-an, D.W. MacKinnon, seorang profesor psikologi melakukan riset kreativitas di Universitas California di Berkeley. Hasil tes menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki kreativitas tinggi, tingkat kecerdasannya tidaklah berbeda dari rekan-rekan mereka yang mempunyai kreativitas lebih rendah, tetapi mereka mengambil lebih banyak waktu untuk mempelajari masalah dan lebih lama "bermain dengan mereka."

Pertanyaannya, mengapa bangsa ini terus mundur ke belakang? Karena selama ini, permasalahan dianggap neraka, sementara kenyamanan bagai surga. Berlomba-lombalah siswa mencari bimbel untuk tahu bagaimana mengisi soal ujian dengan mudah, tanpa lelah berpikir, dan tanpa harus bersusah payah. Padahal kalau ditelisik lebih jauh lagi, maka surga dikelilingi sesuatu yang tidak menyenangkan, sementara neraka selalu dikelilingi dengan segala yang menyenangkan. Sering kali belajar itu tak menyenangkan sebagaimana kata bijak "belajar itu akarnya pahit, buahnya manis."

"Bermain" dengan masalah adalah bagian hidup dari pemikir kreatif yang konsisten bergulat dengan masalah. Mereka menikmati permainan tidak hanya sehari-dua hari, namun bertahun-tahun, belasan, sampai puluhan tahun. Sampai pada suatu titik perjalanan, apa yang mereka temukan dan hasilkan tidak hanya memenangkan diri sendiri, namun juga peradaban umat manusia secara keseluruhan dan kedigdayaan sebuah bangsa dimana ia berasal.

Edison dengan penemuan lampunya, Bill Gates dengan komputer personalnya, James Watt dengan mesin uapnya, dan masih banyak tokoh lainnya yang dapat menjadi inspirasi betapa pentingnya harga sebuah kreativitas yang dapat mengangkat martabat bangsa. Itu bisa terjadi di Indonesia, kalau sistem pendidikan nasional mau lebih menekankan proses berpikir kreatif di dalamnya.