Navigation


RSS : Articles / Comments


Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa sebagai sparring partner dalam kampanye kampus

05.47, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment

Pemerintah pada Pemilu 2004 memperbolehkan partai politik (parpol) berkampanye di kampus. Hal ini memancing reaksi dari kalangan civitas akademika. Menurut Malik Fajar, model kampanye kampus tidak sama dengan model kampanye pengerahan massa. Kampanye di kampus akan lebih mengedepankan ciri akademis dengan cara dialogis. Suatu model kampanye yang "akan bermanfaat bagi pendidikan politik para mahasiswa" (Republika 26/2/2003).Parpol di perbolehkan kampanye sesuai mekanisme kampanye yang ditetapkan oleh masing masing kampus.

Hampir setiap kampus, mayoritas kalangan aktifis mahasiswa menolak kehadiran parpol untuk berkampanye. Setidaknya kalangan mahasiswa melihat dan mempunyai beberapa alasan mendasar atas penolakan mereka terhadap kampanye di kampus. Pertama, adanya alasan pinsipil dan perbedaan diametral antara dunia politik dan dunia pendidikan. Kalangan pendidikan membangun bangsa dalam jangka panjang, secara terarah dan berkesinambungan. Untuk itu tiap lembaga pendidikan, dalam hal ini kampus, telah mempunyai blue print arah kebijakan dan tujuan pendidikan. Sementara partai politik lebih mementingkan kepentingan jangka pendek. Kalau toh dalam AD/ART dan janji parpol tersebut mengemukakan hal hal yang bersifat idealita, itu berubah seratus delapan puluh derajat manakala mereka telah mendapatkan "kursi" di carinya, dan inilah fakta yang ada selama ini. Kepentingan jangka pendek inilah yang membedakan parpol dengan kampus/lembaga pendidikan.

Kedua, kekhawatiran politisasi kampus oleh pihak pihak tertentu. Dengan diperbolehkannya kampus dipakai sebagai ajang kampanye parpol, aktifis mahasiswa menduga adanya kepentingan dan konsesi tertentu dan juga kemudahan akses bagi kampus dalam melakukan sesuatu terutama dengan bila bekerjasama dengan parpol pemenang terutama yang di prediksikan pemenang pemilu.

Ketiga, realitas lapangan menunjukkan bahwa kinerja "wakil rakyat" belum memuaskan (untuk tidak mengatakan: mengecewakan!). Tingkah laku elit politik yang tak mencerminkan kondisi rakyat kecil dan tidak adanya sense of crisis. Hal ini semakin menguatkan asumsi bahwa anggota legislative adalah wakil parpol yang tidak mewakili dan memperjuangkan kepentingan rakyat kecil tetapi lebih mementingkan kepentingan golongan dan parpolnya. Di saat rakyat tercekik oleh kebutuhan ekonomi, politisi di beberapa DPRD seperti Boyolali, Sukoharjo dan Sragen meminta dana purnabhakti 25-35 Juta atas perjuangan mereka di legislatif.

Alasan kampanye di kampus merupakan pendidikan politik mungkin ada benarnya. Selama ini pendidikan pilitik tak pernah ada dalam perkuliahan kecuali fakultas sosial politik. Dengan demikian mahasiswa akan melek politik. Dan lagi pula kampanye tersebut parpol 'diharapkan" tidak membawa massa. Kampanye dalam bentuk diskusi dialogis, tiap jurkam memaparkan program parpolnya, calon presidennya dan menyampaikan janji-janjinya.

Dengan demikian, agar terjadi keseimbangan atau balance dalam kampanye kampus, menurut penulis perlu beberapa tawaran alternatif. Pertama, karena yang maju dalam kampanye adalah tiap jurkam dengan segala program parpol dan hal positif lainnya, maka pihak aktifis mahasiswa dan akademisi kampus perlu memposisikan diri sebagai subyek kritis. Jurkam harus siap "dikuliti" porgram parpolnya -yang sering kali berbentuk konsep ideal-- dengan realita yang terjadi di lapangan, dengan kondisi utusannya yang menjadi wakil rakyat. Artinya akademisi dan aktifis kampus adalah subyek dan bukan obyek, bersikap positif dan lebih bijak terhadap parpol tetapi juga tidak meninggalkan sikap kritis yang menjadi tradisi keilmuan kampus. Pemilihan umum adalah wahana penyaluran aspirasi secara demokratis. Pemilih merupakan subyek yang bebas menentukan hak pilihnya sesuai dengan aspirasinya, atau tidak memilih sama sekali dan aktif mengcounter parpol bila memang parpol di anggap membodohi kampus dan rakyat. Kondisi ini memungkinkan titik temu antara parpol, rektorat dan aktifis mahasiswa.

Wal hasil, kampus perlu aktif menjadi "sparring partner" parpol dalam memberi arah dan mengkontruksi sejarah masa depan bangsa. Upaya ini bisa dengan kerja sama melalui simbiosis mutualisme antara kampus dan parpol, dengan tetap kritis tentunya. Bisa juga sparring partner ini dalam bentuk sikap oposisi kampanye. Bila parpol dengan janji janjinya, kampus dengan penilaian kritis. Dan jika perlu aktifis kampus mengkampanyekan golongan putih (golput) sebagai salah satu pilihan masyarakat, dan sebagai sikap ketidak puasan dan kritis yang demokratis atas janji saat kampanye dan kenyataan yang ada pada parpol ketika telah memperoleh kursi. Dengan adanya giolput parpol mengetahui seberapa besar kepercayaan pemilih. Dan memungkinkan pengukuran secara nominal seberapa besar golput pada berbagai macam pemilu yang akan ada.

Pendidikan Nasional Perlu Sentuhan Kreativitas

05.20, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment

Jumlah penganggur berlipat jumlahnya. Tak ayal, selama dua hari berturut-turut (31/11/2008 dan 1/12/2008), Kompas mewartakan betapa mencemaskannya kondisi sektor riil. PHK terpaksa dilakukan, sektor informal pun terkena getahnya.

Dengan kondisi yang tidak stabil, kepastian akan jumlah penduduk yang makin banyak, urbanisasi meningkat, dan pada akhirnya kota menjadi incaran kaum marjinal mencari pekerjaan merupakan efek domino dari rentan atau fluktuatifnya dunia usaha kita.

Tingkat kriminalitas yang kian meningkat, penyimpangan sosial banyak terjadi, dan kehidupan sosial terpenjara dengan rasa curiga dan tak percaya tinggi tinggi. Interaksi antar warga menurunkan aspek penghargaan sosial yang mumpuni antar sesama.

Dunia berubah. Indonesia yang ramah hanya berbayang di masa lalu. Modernitas begitu menyakitkan. "Pasar domestik" (sektor informal) diamuk satpol PP. Gerobak dagang diangkut. Pedagang hanya memasrah. Pemodal kecil dengan sendirinya akan tergusur. Tidak ada proteksi bahkan penghargaan bagi mereka yang sudah melakukan terobosan kreatif.

Di tengah pengangguran yang mengancam, sudah selayaknya pemerintah berterima kasih kepada warga negara yang lebih banyak meminjam modalnya dari rentenir daripada bank yang lebih percaya pada pengusaha bermodal besar. Singkat kata, memberdayakan warga yang marjinal bagai mimpi sebagaimana iklan politik di televisi. Iklan politik selebihnya tak beda jauh dengan kualitas sinetron yang lebih banyak mengumbar mimpi.

Evaluasi dunia pendidikan

Menganggur bukan hanya milik orang kecil. Namun juga itu berlaku bagi orang-orang yang bermental kecil. Orang-orang yang bermental kecil merasa cukup puas dengan apa yang terberikan. Fakta itu banyak berlaku di dunia persekolahan dan perguruan tinggi. Menurut HAR Tilaar, berdasarkan pendataan tahun 2007 jumlah diploma dan sarjana yang menganggur mencapai 740.000 orang (Kompas, 16/02/2008).

Sering kali proses belajar tidak menantang siswa untuk melakukan terobosan dalam ruang interaksi sosial yang nyata. Di sebuah hipermarket atau toko-toko besar, kita banyak melihat banyak siswa SMK melakukan magang atau PKL. Di luar sekolah kejuruan, banyak siswa yang tersesat, tak bisa melanjutkan kuliah atas alasan minimnya dana.

Perguruan tinggi negeri (PTN) yang infrastrukturnya dibangun dari pajak rakyat pun tak bisa berkutik. Alokasi pembiayaan yang semakin kecil dari pemerintah saja sudah membuat dosen hilir mudik mencari proyek-proyek penelitian dengan konsekuensi logis, meninggalkan lebih banyak waktu mengajarnya. Padahal riset yang dilakukan pun hanya berbatas pada kepentingan "perut" bukan lagi pada misi idealisme tridharma perguruan tinggi.

Sungguh kompleks memang. Namun pengangguran yang semakin berbilang jumlahnya dan mengurita dimana-mana acapkali menimbulkan ekses yang merugikan banyak pihak. Untuk itu, portofolio dunia persekolahan dan perguruan tinggi yang semakin runyam perlu dievaluasi.

Fungsi kreativitas dan imajinasi siswa harus lebih dikedepankan, sehingga standar kelulusan bukan lagi ditentukan dari ranah kognitif lagi. Ujian nasional (UN) jelas bertolak belakang dari keinginan negara mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di Amerika, tidak ada hubungan nilai rata-rata siswa sekolah dasar dan menengah dengan berjubelnya pemenang nobel yang berasal dari negeri Paman Sam itu. Bahkan kalau mau diukur, prestasi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia lebih baik dibanding Amerika.

'Kemenangan' dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika karena lebih mengedepankan aspek kreativitas dan imajinasi siswa. Kebebasan gaya belajar siswa yang liberatif memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi keunggulan dirinya.

Tentu saja, kita tak pantas berbangga-ria, ketika anak-anak Indonesia sudah unggul di berbagai kompetisi setara olimpiade. Kemenangan itu baru sebatas teori, belum sampai pada tahap tindakan penemuan. Tentu saja, prasayarat dana, fasilitas riset (laboratorium), perpustakaan, dan infrastruktur pendukung lainnya harus tersedia, sehingga kemenangan akan terasa lebih nyata. Namun data menunjukkan bahwa di tingkatan SMP, sebanyak 34,3 persen sekolah belum mempunyai perpustakaan dan 38,2 persen tidak memiliki laboratorium (Kompas, 2/12/2008).

Di perguruan tinggi, tak semua produk inovatif dapat dikomersialisasikan. Parker dan Mainelli (2001) mencatat bahwa dari 100 ide penelitian di perguruan tinggi Amerika hanya 10 yang kemudian direalisasikan dalam proyek penelitian. Dari ke-sepuluh proyek ini hanya dua yang dinilai memiliki potensi komersial dan hanya satu dari keduanya yang kemudian benar-benar menguntungkan. Simpulannya jelas, pengembangan inovasi hasil kreativitas dan imajinasi dapat menjadi basis pengembangan dana. Pekerjaan berat memang, karena selama 22 tahun (1985-2007) penetapan hak atas kekayaan intelektual di seluruh perguruan tinggi di Indonesia hanya 419 (Kompas, 18/11/2008).

Pentingnya kreativitas

Wabah kemalasan menjalar kemana-mana. Banyak orang lebih suka kenyamanan. Lebih baik kehilangan tantangan daripada kehilangan pekerjaan. Banyak sekolah dibuat sekadarnya. Banyak pahlawan tanpa tanda jasa yang puluhan tahun mengajar diberi penghargaan atas alasan kasihan, bukan profesionalitas mereka. Kompleks!

Guru bantu atau honorer, apapun namanya, sudah seperti pekerja sosial yang dipaksa mengajar profesional dengan gaji ala kadarnya atau dibayar gabah. Misi mulia mereka dianggap amal atau sekadar solidaritas sosial. Faktanya lagi, 63 persen guru TK-SMA di Indonesia belum sarjana (Kompas, 12/04/2008). Sebaliknya, Ki Supriyoko mencibir banyak remaja putri kota atau bahkan desa ingin menjadi guru TK bukan atas alasan mencintai profesi guru TK melainkan karena sulitnya mencari pekerjaan (Republika, 18/11/2008). Ironis!

Selanjutnya, pemerintah sudah saatnya menjaga garda terdepan Republik ini dengan pendidikan sebagai senjata utamanya. Berbagai penemuan kreatif yang terjadi dengan proses evolusi pendidikan akan membalikkan kondisi Indonesia menjadi lebih terhormat di hadapan bangsa lain. Belum terlambat dan selalu ada waktu bagi siapapun yang mau berpikir bersama kompleksitasnya.

Kalau kompleksitas itu adalah tantangannya, maka kreativitas berpikir adalah pijakan tepat mengantar nuansa pendidikan menjadi lebih menyenangkan. Masalah selalu diinginkan untuk menantang pikiran. Mengasah pikiran menjadi lebih peka terhadap permasalahan dan alternatif jawaban. Pada tahun 1970-an, D.W. MacKinnon, seorang profesor psikologi melakukan riset kreativitas di Universitas California di Berkeley. Hasil tes menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki kreativitas tinggi, tingkat kecerdasannya tidaklah berbeda dari rekan-rekan mereka yang mempunyai kreativitas lebih rendah, tetapi mereka mengambil lebih banyak waktu untuk mempelajari masalah dan lebih lama "bermain dengan mereka."

Pertanyaannya, mengapa bangsa ini terus mundur ke belakang? Karena selama ini, permasalahan dianggap neraka, sementara kenyamanan bagai surga. Berlomba-lombalah siswa mencari bimbel untuk tahu bagaimana mengisi soal ujian dengan mudah, tanpa lelah berpikir, dan tanpa harus bersusah payah. Padahal kalau ditelisik lebih jauh lagi, maka surga dikelilingi sesuatu yang tidak menyenangkan, sementara neraka selalu dikelilingi dengan segala yang menyenangkan. Sering kali belajar itu tak menyenangkan sebagaimana kata bijak "belajar itu akarnya pahit, buahnya manis."

"Bermain" dengan masalah adalah bagian hidup dari pemikir kreatif yang konsisten bergulat dengan masalah. Mereka menikmati permainan tidak hanya sehari-dua hari, namun bertahun-tahun, belasan, sampai puluhan tahun. Sampai pada suatu titik perjalanan, apa yang mereka temukan dan hasilkan tidak hanya memenangkan diri sendiri, namun juga peradaban umat manusia secara keseluruhan dan kedigdayaan sebuah bangsa dimana ia berasal.

Edison dengan penemuan lampunya, Bill Gates dengan komputer personalnya, James Watt dengan mesin uapnya, dan masih banyak tokoh lainnya yang dapat menjadi inspirasi betapa pentingnya harga sebuah kreativitas yang dapat mengangkat martabat bangsa. Itu bisa terjadi di Indonesia, kalau sistem pendidikan nasional mau lebih menekankan proses berpikir kreatif di dalamnya.

Keteladanan Kunci Kesuksesan Pendidikan

05.17, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment

Pendidik adalah penebar kebaikan, pendidik adalah pengemban amanah, pendidik merupakan rujukan orang yang membutuhkan saran dan aspirasi, pendidik (yang beriman) menempati posisi yang mulia jauh dari kedudukan orang-orang yang beriman, pendidik selalu dijadikan motivasi dari ide dan saran serta ilmunya jika pendidik mampu menjalankan amanah ilmiah yang harus diembannya sebagai pembawa ilmu.

anak didik adalah proyek dari para pendidik yang bisa diwarnai dengan berbagai warna dan karakter guna menjalani kehidupan di masa mendatang. anak didik ibarat kertas putih yang menerima coretan apa saja yang menempel. maka kesuksesan bagi para pendidik keteladanan seharusnya menghiasi dirinya - yang selalu dipantau anak didik- dhohir terlebih hal-hal yang tidak nampak / bathin.

hal-hal yang batin barangkali tidak mampu terlihat langsung oleh anak didik namun dampak dari batin lebih besar karena hubungan batin antara pendidik dan anak didik tidak terlepas kerena jauhnya jarak.

Mungkinkah seorang pendidik yang mendambakan kesuksesan anaknya menampilkan hal-hal yang kontradiktif dengan ilmu yang disampaikan?! wallahu a'laam

Rasulullah saw adalah pendidik sejati lisan dan perbuatan mendidik generasi terbaik para sahabat ra

Mencetak Generasi Unggul ala Jepang

05.15, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment

Mencetak Generasi Unggul Ala Jepang

Oleh Arman Andi Amirullah
Kamis, 8 Mei 2008 ( Suara Karya )

Kekeliruan dunia pendidikan kita selama ini terletak pada ketidakmampuan para pakar pendidikan, pendidik, bahkan pengambil kebijakan untuk mencetak generasi unggul. Generasi ini punya ciri kreatif, perekayasa, pencipta, dan bersikap atau bertingkah laku teladan. Selain berbudi pekerti luhur, generasi unggul dalam kehidupan keseharian dicirikan peduli sesama, menghargai pendapat orang lain, tertib, jujur, disiplin, bertanggung jawab, penuh kasih sayang, cinta kebersihan, keindahan dan lingkungan serta concern terhadap perdamaian.

Sayang seribu sayang, dunia pendidikan kita tampaknya masih terfokus mencetak "generasi pintar". Generasi ini lebih mengutamakan pencapaian prestasi program belajarnya dengan sasaran "mengejar ranking atau nilai NEM (nilai evaluasi murni) dan UN (ujian nasional) tinggi" atau menjadi juara lomba mata pelajaran tertentu.

Indonesia banyak melahirkan sederet juara olimpiade internasional, baik di bidang pelajaran matematika, sains, fisika, kimia maupun olahraga. Pertanyaannya, dengan mencetak generasi yang bertumpu pada logika (otak kiri) itu, apa yang bisa diharapkan demi kemajuan bangsa ke depan? Kita lupa, bangsa yang dibangun hanya dengan mengandalkan ilmu, tanpa bekal kreativitas dan moral, hanya akan menghancurkan bangsa itu sendiri.

Menurut penelitian mutakhir di AS, peran logika bagi sukses seseorang hanya 4%. Selebihnya (96%) sukses seseorang ditentukan oleh kemampuan "otak kanan" yang punya andil besar dalam hal kreativitas, imajinasi, inovasi, daya rasa, kreasi, seni, kemampuan mencipta dan merekayasa. (MI, 16/1'06) Kemampuan otak sadar manusia sendiri sebenarnya hanya 12% dari seluruh kemampuan otak manusia dan selebihnya (88%) berada di otak bawah sadar, tepatnya di otak kanan. (Quantum Ikhlas, 2007).

Inilah rahasia bangsa Jepang, Korea, China, Singapura, dan negara-negara Barat hingga menjadi bangsa maju. Belakangan hal itu mulai diketahui dan disadari pula di India, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Indonesia? Barangkali baru sebagian kecil orang memahami pentingnya pengembangan peran otak kiri bagi sebuah sistem pendidikan.

Ironis, di tengah bangsa-bangsa lain makin aktif mengembangkan model pendidikan ke arah yang lebih baik, Indonesia justru masih berkutat pada berbagai masalah kompleks. Waktu, pikiran dan tenaga kita seolah terkuras hanya untuk membahas masalah pemberantasan korupsi, karut-marutnya pelayanan publik dan masalah birokrasi yang berbelit.

Apa yang salah dengan pendidikan kita? Bukankah sejak duduk di kelas TK, SD, SMP, dan SMA siswa-siswi selain diajarkan beberapa pelajaran umum dan khusus juga tak ketinggalan selalu dicekoki pelajaran agama dan kewarganegaraan? Suasana religius pun selalu melingkupi keseharian anak-anak Indonesia. Khotbah-khotbah agama tak hanya dilakukan di tempat-tempat ibadah, namun juga di televisi, lingkungan kerja dan masyarakat.

Ini bertolak belakang dengan kehidupan nyata masyarakat kita, yang justru kurang mencerminkan nuansa kehidupan agamis. Budaya tertib dan bersih, yang diyakini sebagai bagian dari iman, terabaikan. Tatanan kehidupan masyarakat secara umum pun tidak menunjukkan kebajikan dan keteraturan.

Pelanggaran lalu lintas merupakan hal yang biasa. Budaya antre dan sopan-santun dianggap angin lalu. Kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan lingkungan, rendah. Banyak orang masih membuang sampah sembarangan, sementara fasilitas umum kotor dan bau. Di lain pihak, kasus-kasus perusakan lingkungan dan kriminalitas jalanan selalu menghiasi media massa setiap hari.

Dari pengalaman ketika berkunjung ke Jepang dan mencermati secara seksama sekolah dasar di negeri Sakura ini, terlihat pembiasaan sikap disiplin dan tingkah laku bermoral telah ditanamkan sejak siswa mulai masuk sekolah. Meski tak dibekali pelajaran agama, tatanan kehidupan masyarakat Jepang nyatanya lebih mapan, tertib, bermoral.

Begitu anak didik memasuki lingkungan sekolah, mereka harus rela dan sabar melepas sepatu untuk ditukar dengan sandal/sepatu khusus yang sudah disediakan di loker-loker. Ketika siswa hendak ke toilet, sandal/sepatu yang dikenakannya pun masih harus ditukar lagi dengan sandal khusus toilet yang terparkir rapi di depan pintu toilet. Ingat, usai memakainya, siswa harus mengembalikannya ke posisi semula untuk memudahkan rekan lain yang akan menggunakan selanjutnya. Meski kelihatannya sepele, namun pembiasaan-pembiasaan ini dapat menumbuhkan kesadaran pada siswa untuk bersikap sabar, bertanggung jawab, menghargai orang lain, hidup bersih dan selalu menjaga kesehatan tubuh.

Di dalam kelas sendiri, anak-anak Jepang sudah dibiasakan melayani teman-teman sekelasnya dengan menyajikan makanan secara bergiliran. Pembiasaan ini untuk menanamkan kesadaran anak-anak agar tertib, disiplin, menghargai budaya antre, rajin, penuh kebersamaan dan peduli sesama.

Di kelas-kelas sekolah Jepang banyak dipajang hasil karya siswa, baik di dinding maupun di atas rak-rak tempat tas siswa. Coraknya beraneka ragam, mulai dari karya dari barang-barang bekas dengan disain robot, mobil, dan bangunan tinggi hingga bentuk-bentuk karya lainnya yang lebih rumit.

Pembiasaan memamerkan hasil cipta karya siswa, merupakan momentum bagi siswa untuk meraih cita-cita. Lewat karya-karya tersebut, anak-anak Jepang kelak diharapkan bisa menjadi perakit mobil, robot, arsitek gedung-gedung bertingkat dan pencipta alat-alat canggih lainnya hingga menjadi kebanggaan bagi bangsanya.

Memang, kemampuan untuk berkreasi mendapat porsi besar dalam sistem pendidikan di Jepang. Sejak dini kemampuan dan kreativitas siswa digali sebesar-besarnya demi disiapkan sebagai tenaga terampil penuh kreativitas di bidang masing-masing di masa depan.

Falsafah Jepang mengatakan, "Anak-anak adalah harta karun negara". Nasib bangsa masa depan diyakini ada di pundak anak-anak mereka. Maka, negara selalu memperlakukan istimewa anak-anak Jepang, baik dibidang pendidikan, kesehatan, gizi, maupun perkembangan emosionalnya. Sistem pendidikan nasional Jepang pun lebih diarahkan demi kemajuan anak-anak bangsa ke depan.

Apakah kita akan terus membiarkan sistem pendidikan ini lebih bertumpu pada logika, tanpa mengutamakan penggalian kemampuan dan kreativitas seperti anak-anak Jepang? ***

Syarat Minimal Bagi Seorang Pemimpin

04.50, Posted by EmhaDzarier Blog, No Comment

Bagi suatu organisasi (apapun jenisnya), kaderisasi merupakan hal biasa dilakukan. Entah itu untuk tujuan regenerasi/menjaring dalam rangka suksesi kepemimpinan, atau untuk pembekalan /pemantapan para pengurus organisasi.

A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Apa itu Pemimpin (kepemimpinan)? Tidak ada definisi secara tepat untuk pengertian pemimpin-kepemimpinan. Boleh dikatakan, definisi kepemimpinan sebanyak orang yang mendefinisikan. Karena setiap orang, berdasar pada pemahaman dan harapannya tentang kepemimpinan dapat mendefinisikan pengertian kepemimpinan itu sendiri.

Robert Schuller melihat kepemimpinan sebagai kekuatan untuk menseleksi mimpi-mimpi, sesudah itu menetapkan tujuan-tujuan. Kepemimpinan adalah suatu kekuatan yang menggerakkan perjuangan atau kegiatan Anda menuju sukses.

Sedang Cattell merumuskan pemimpin adalah "orang yang menciptakan perubahan yang paling efektif dalam kinerja kelompoknya". Dengan memakai definisi sederhana, Modern Dictionary of Sociology mengartikan pemimpin sebagai "seseorang yang menempati peranan sentral atau posisi dominant dan pengaruh suatu kelompok". Jadi dapat dikatakan inti dari pengertian pemimpin adalah peranan kunci, dominasi, serta pengaruh. Sementara kepemimpinan bagi Stogdill, didefinisikan sebagai "proses mempengaruhi kegiatan kelompok dalam perumusan dan mencapai tujuan".

Glenn (1992) yang juga telah mengumpulkan lebih dari 350 definisi tentang kepemimpinan, tetap merasa tidak puas. Sungguhpun begitu, ia tetap kembali menawarkan hasil pengamatan yang ia anggap patut untuk diperhitungkan. Yaitu: kepemimpianan sesungguhnyan bersumber dari keunggulan manusia, tetapi tidak ada resep atau formula untuk menjalankannya.

Sedang kepemimpinan yang efektif menurut Siagian (1982) adalah kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan usaha dan iklim yang kooperatif dalam kehidupan organisasional, dan yang tercermin dalam kecekatannya mengambil keputusan. Artinya, pemimpin harus mampu menerobos lack of urgency dan lack of momentum.

B. PENDEKATAN KEPEMIMPINAN

Dalam studi kepemimpinan pada umumnya yang saya ketahui, dikenal ada 4 (empat) macam pendekatan kepemimpinan. Yaitu: 1. Pendekatan sifat; 2. Gaya kepemimpinan; 3. Situasional kepemimpinan; dan 4. Fungsional kepemimpinan.

1. Pendekatan Sifat Kepemimpinan:

Pendekatan pertama ini, disebut teri sifat. Dibicarakan mengenai sifat-sifat yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Yaitu yang membedakan dengan yang bukan pemimpin. Para ahli ilmu kepemimpinan telah mengidentifikasikan 5 sifat negative yang mencegah orang menjadi pemimpin :

a. tidak banyak mengetahui.

b. Terlalu kaku.

c. Tidak berperan serta.

d. Otoriter.

e. Suka menyerang dengan kata-kata.

2. Pendekatan Gaya Kepemimpinan:

Penelitian-penelitian yang bersumber pada pandangan gaya kepemimpinan umumnya memusatkan perhatian mereka pada perbandingan antara gaya dekokratik dan gaya otokratik. Gatto (1992) mengkategorikan gaya kepemimpinan ke dalam 4 macam: Direktif, konsultatif, partisipatif, dan gaya delegasi.

Karakteristik dari setiap gaya tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:

a. Gayan direktif: Pemimpin yang direktif pada umumnya membuat keputusa-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya. Semua kegiatan terpusat pada pemimimpin. Dan sedikit sekali kebebasan bagi bawahan untuk berkreasi. Pada dasarnya gaya direktif adalah gaya otoriter.

b. Gaya konsultatif: gaya ini dibangun di atas gaya direktif. Kurang otoriter dan banyak melakukan interaksi dengan para staf dan anggota organisasi/ bawahan. Fungsi pemimpin lebih bayak berkonsultasi, memberikan bimbingan, motivasi, memberi nasehat dalam rangka mencapai tujuan.

c. Gaya partisipatif: gaya ini bertolak dari gaya konsultatif yg bisa berkembang kea rah saling percaya antara bawahan dengan pemimpin. Pemimpin cenderung memberi kepercayaan pada kemampuan staf untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sebagai tanggungjawab mereka.

d. Gaya delegasi: disebut juga gaya Free-rein. Yaitu gaya yang mendorong kemampuan staf untuk ambil inisiatif.Kurang interaksi dan control yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila staf memperlihatkan tingkst kompetensi dan tanggungjawab yang tinggi.

3. Pendekatan Situasional Kepemimpinan:

Dalam pendekatan situasional dapat dikatakan bahwa factor determinan yang dapat membuat efektif suatu gaya kepemimpinan tergantung pada situasi dimana pemimpin itu berada pada kepribadian pemimpin sendiri. Fieldler (1967, 1974) mengajukan teori Kontingen, menyampaikan situasi kepemimpinan digolongkan dalam 3 dimensi : 1. hubungan pemimpin-anggota, yaitu pemimpin aka